March 29, 2008

The REAL reason we use Linux

We tell people we use Linux because it's secure. Or because it's free, because it's customizable, because it's free (the other meaning), because it has excellent community support...
But all of that is just marketing bullshit. We tell that to non-Linuxers because they wouldn't understand the real reason. And when we say those false reasons enough, we might even start to believe them ourselves.
But deep underneath, the real reason remains.
We use Linux because it's fun!
It's fun to tinker with your system. It's fun to change all the settings, break the system, then have to go to recovery mode to repair it. It's fun to have over a hundred distros to choose from. It's fun to use the command line.
Let me say that again. It's fun to use the command line.
No wonder non-Linuxers wouldn't understand.
The point with us Linux fans is - we use Linux for its own sake. Sure, we like to get work done. Sure, we like to be secure from viruses. Sure, we like to save money. But those are only the side-effects. What we really like is playing with the system, poking around, and discovering completely pointless yet fascinating facts about the OS.
There are three main reasons Linux is so much fun:
1. Linux gives you complete control
Ever tried stopping a process in Windows and the OS wouldn't let you? Ever tried deleting a file - and you couldn't? Even though you had admin rights?
Linux lets you do anything. That's the great benefit of usually logging in as user. If you login as the root, the OS assumes you know what you're doing. Once you become root, everything is allowed.
2. Linux isn't widely used
This is a paradox. We often complain Linux isn't more widely used. But that's one of the reasons we use it. It gives us a feeling of being a special clique. Like we're better than "those ignorant masses".
If Linux becomes widely used, we'll probably switch to something else. Or at least develop an obscure distro that only we will use. Because, let's face it, we want to feel special.
3. Linux is free (as-in-speech)
We can get the source code for all our applications. If we want to know how a certain part of the OS works, we can. This lets us tweak and play with our systems. And we absolutely loo-o-o-ve tweaking our system.
Of course we can't tell non-Linuxers we use Linux because it's fun - they'd stick us into a mental asylum quicker than you can say "antidisestablishmentarianism". So we'll keep telling them the false yet plausible reasons for using Linux. But deep inside, we'll know the real reason we use Linux.
And maybe, just maybe, next time someone asks me why I use Linux, I'll flash a huge smile and answer: "Because using Linux is FUN!" :)

http://blog.anamazingmind.com/2008/03/real-reason-we-use-linux.html

March 25, 2008

ANDA BERHARGA

Nats : Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau (Yesaya 43:4)


Relakah Anda mengeluarkan uang ratusan juta atau menulis cek bernilai jutaan untuk sebuah barang yang tidak berharga? Tentu tidak! Kita bersedia membayar mahal hanya untuk sesuatu yang kita anggap berharga dan bernilai.
Demikian juga ketika Allah meninggalkan takhta kemuliaan-Nya di surga, turun dan mengambil rupa seorang hamba, serta mati disalib untuk menebus manusia dari dosa. Bukankah ini sebuah harga yang begitu mahal? Lalu, apakah mungkin Allah mau menebus sesuatu yang tidak berarti dengan harga mahal? Tentu tidak! Jika Allah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal dan sangat berarti bagi-Nya untuk sesuatu yang tidak berharga, tentu ini sebuah kekonyolan besar!
Mengapa Allah melakukan semua itu demi kita? Sekarang kita memiliki jawaban pasti: karena kita berharga di mata-Nya! Bacaan hari ini memuat beberapa ungkapan tentang betapa berharganya kita sebagai kepunyaan-Nya (ayat 1,3,4). Itu sebabnya Allah mau mengurbankan segala sesuatu untuk menyelamatkan kita. Dia mengejar, mencari, melongok ke tempat gelap untuk mencari manusia yang terhilang.
Biarlah pengertian ini memupus semua cara pandang yang salah tentang diri sendiri. Selama ini mungkin kita merasa tidak berarti dan tidak berharga. Mungkin kita memiliki latar belakang dan masa lalu yang suram. Jangan biarkan hal ini merasuk dan merusak diri kita. Jangan mudah memercayai apa yang dikatakan orang lain atau diri sendiri mengenai diri Anda, tetapi percayalah pada apa yang dikatakan Tuhan tentang diri kita, "Engkau berharga di mata-Ku" (Yesaya 43:4) -PK

TUHAN BERKURBAN DENGAN HARGA MAHAL
UNTUK SESUATU YANG SUNGGUH BERARTI

March 24, 2008

Tuhan (Tidak) Ada

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur berkata, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”

“Kenapa kamu berkata begitu ?” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, adakah yang sakit? Adakah anak terlantar? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, gimbal, kotor, dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat tidak terawat.

Si konsumen kembali ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu? Sebenarnya tidak ada tukang cukur.”

“Kamu kok bisa bilang begitu ?” si tukang cukur tidak terima. “Saya di sini dan saya tukang cukur. Baru saja saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada. Jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana.“

“Ah tidak, tukang cukur tetap ada!” sanggah si tukang cukur. “Yang kamu lihat itu salah mereka sendiri. Kenapa mereka tidak datang ke saya?” si tukang cukur membela diri.

“Nah!” kata si konsumen menyetujui. “Itu dia. Tuhan itu ada. Namun yang terjadi, orang-orang tidak mau datang kepadaNya dan tidak mau mencariNya. Oleh karena itu, banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

dikutip dari http://kapurtulis.wordpress.com/2008/01/10/cerita-tuhan/