Posts

Showing posts from March, 2008

The REAL reason we use Linux

We tell people we use Linux because it's secure. Or because it's free, because it's customizable, because it's free (the other meaning), because it has excellent community support...
But all of that is just marketing bullshit. We tell that to non-Linuxers because they wouldn't understand the real reason. And when we say those false reasons enough, we might even start to believe them ourselves.
But deep underneath, the real reason remains.
We use Linux because it's fun!
It's fun to tinker with your system. It's fun to change all the settings, break the system, then have to go to recovery mode to repair it. It's fun to have over a hundred distros to choose from. It's fun to use the command line.
Let me say that again. It's fun to use the command line.
No wonder non-Linuxers wouldn't understand.
The point with us Linux fans is - we use Linux for its own sake. Sure, we like to get work done. Sure, we like to be secure from …

ANDA BERHARGA

Nats : Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau (Yesaya 43:4)

Relakah Anda mengeluarkan uang ratusan juta atau menulis cek bernilai jutaan untuk sebuah barang yang tidak berharga? Tentu tidak! Kita bersedia membayar mahal hanya untuk sesuatu yang kita anggap berharga dan bernilai.
Demikian juga ketika Allah meninggalkan takhta kemuliaan-Nya di surga, turun dan mengambil rupa seorang hamba, serta mati disalib untuk menebus manusia dari dosa. Bukankah ini sebuah harga yang begitu mahal? Lalu, apakah mungkin Allah mau menebus sesuatu yang tidak berarti dengan harga mahal? Tentu tidak! Jika Allah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal dan sangat berarti bagi-Nya untuk sesuatu yang tidak berharga, tentu ini sebuah kekonyolan besar!
Mengapa Allah melakukan semua itu demi kita? Sekarang kita memiliki jawaban pasti: karena kita berharga di mata-Nya! Bacaan hari ini memuat beberapa ungkapan tentang betapa berharganya kita sebagai kepunyaan-Ny…

Tuhan (Tidak) Ada

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut danmerapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.Si tukang cukur berkata, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”“Kenapa kamu berkata begitu ?” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, adakah yang sakit? Adakah anak terlantar? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruan…